40 hadis tentang ilmu

selamat datang di seputar hadis tentang ilmu

MATERI HADIS

Sabtu, 29 November 2025

hadis ke 6 Malu dalam menuntut ilmu

hadis ke 6 Malu dalam menuntut ilmu

   Malu dalam menuntut ilmu





 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْنَبَ ابْنَةِ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَتْ الْمَاءَ فَغَطَّتْ أُمُّ سَلَمَةَ تَعْنِي وَجْهَهَا وَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَتَحْتَلِمُ الْمَرْأَةُ قَالَ نَعَمْ تَرِبَتْ يَمِينُكِ فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari Zainab puteri Ummu Salamah, dari Ummu Salamah ia berkata:

Ummu Sulaim datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam perkara yang hak. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ya, jika dia melihat air." Ummu Salamah lalu menutupi wajahnya seraya bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah seorang wanita itu bermimpi?" Beliau menjawab: "Ya, Celaka kamu. (jika tidak) Lantas dari mana datangnya kemiripan seorang anak itu?"

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya: (1/38) no. 130
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya:  (1/172) no. 313
  3. Malik dalam "al-Muwatta'": (1/70) no. 161/44
  4. Ibn al-Jarud dalam "al-Muntaqa":  (1/39) no. 96
  5. Ibn Khuzaymah dalam "Sahih"-nya:  (1/337) no. 235
  6. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya: (3/440) no. 1165
  7. Al-Nasa'i dalam "al-Mujtaba": (1/63) no. 197/3
  8. Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya:  (1/164) no. 122
  9.  Ibn Majah dalam "Sunan"-nya:  (1/378) no. 600
  10. Al-Bayhaqi dalam "Sunan al-Kubra": (1/167) no. 807
  11. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya:  (12/6396) no. 27146

 

Kandungan Hadis:

  1.  Hukum Wanita yang Mengalami Mimpi Basah: Rasulullah menjelaskan bahwa wanita juga diwajibkan mandi besar (ghusl) apabila mengalami mimpi basah dan melihat keluarnya air mani. Hal ini menegaskan bahwa ketentuan ghusl berlaku sama bagi laki-laki dan perempuan.
  2. Kepastian Bahwa Wanita Dapat Mengalami Mimpi Basah: Ketika Ummu Salamah merasa heran mengenai kemungkinan wanita bermimpi seperti laki-laki, Rasulullah menegaskan bahwa wanita memang bisa mengalami mimpi basah. Ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut bukan sesuatu yang aneh atau tidak mungkin terjadi pada wanita.
  3. Penjelasan Mengenai Kemiripan Anak dengan Orang Tua: Ucapan Rasulullah : “Lantas dari mana datangnya kemiripan seorang anak itu?” memberi pemahaman bahwa:

  • Anak bisa menyerupai ayah maupun ibunya.
  • Kedua orang tua memiliki peran dalam pembentukan sifat dan karakter anak.
  • Hadis ini sekaligus menjadi isyarat awal mengenai konsep kontribusi genetik dalam penciptaan manusia.
  • Pentingnya Adab Ketika Bertanya: Ummu Sulaim memulai pertanyaannya dengan berkata: “Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap yang benar.”
a            Dari sini dapat difahami bahwa:

  • Seorang Muslim tidak perlu merasa malu bertanya tentang hal-hal agama, sekalipun menyangkut topik yang sensitif.
  • Pengetahuan tentang thaharah (kesucian) harus dipahami dengan benar agar ibadah menjadi sah.

     6. Sikap dan Metode Nabi : Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh kelembutan          dan kebijaksanaan, meskipun topiknya cukup sensitif. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah             agama yang terbuka, ilmiah, dan tidak tabu dalam membahas perkara yang diperlukan untuk                     kesempurnaan ibadah dan kebersihan diri.

  

hadis ke 7 Menghafal ilmu

hadis ke 7 Menghafal ilmu

 

      Menghafal ilmu




 حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ثُمَّ يَتْلُو { إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى إِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيمُ } إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لَا يَحْضُرُونَ وَيَحْفَظُ مَا لَا يَحْفَظُونَ

 

Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah berkata: telah menceritakan kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata:

"Sesungguhnya orang-orang mengatakan: "Abu Hurairah adalah yang paling banyak (menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), kalau bukan karena dua ayat dalam Kitabullah aku tidak akan menyampaikannya." Lalu dia membaca ayat: {Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan dan petunjuk} hingga firmanNya {Allah Maha Penyayang} (Al Baqarah: 159-160). Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin, mereka disibukkan dengan perdagangan di pasar-pasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar, mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dalam mengurus harta mereka. sementara Abu Hurairah selalu menyertai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan lapar, ia selalu hadir saat orang-orang tidak bisa hadir, dan ia dapat menghafal saat orang-orang tidak bisa menghafalnya."

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya:  (1/35) no. 118 dan 119
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya: (7/166–167) no. 2492
  3. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya:  (16/104) no. 7153
  4. Al-Hakim dalam "al-Mustadrak":  (2/271) no. 3092
  5. Al-Nasa'i dalam "al-Sunan al-Kubra":  (5/372) no. 5835
  6. Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya:  (6/153) no. 3834 dan 3835Ibn Majah dalam "Sunan"-nya:  (1/176) no. 262
  7. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya:  (3/1536–1537) no. 7395, 7396, dan 7397
  8. Al-Humaydi dalam "Musnad"-nya: (2/281) no. 1176
  9. Abu Ya'la dalam "Musnad"-nya: (11/88) no. 6219
  10. Al-Bazzar dalam "Musnad"-nya:  (14/156) no. 7689
  11. Al-Tahawi dalam "Sharh Mushkil al-Athar":  (4/348) no. 1659
  12.   Al-Tabarani dalam "al-Mu'jam al-Awsat":(1/247) no. 811

 

Kandungan Hadis:

  1. Motivasi Abu Hurairah menyampaikan hadis: Ia menyampaikan hadis karena merasa bertanggung jawab terhadap ayat Al-Qur’an yang melarang menyembunyikan ilmu (Al-Baqarah: 159–160).
  2. Penjelasan mengapa Abu Hurairah paling banyak meriwayatkan hadis: Ia selalu bersama Rasulullah , bahkan dalam keadaan lapar dan sulit, sehingga mendapat banyak kesempatan belajar langsung.
  3. Kesibukan sahabat lain menjadi alasan keterbatasan mereka: Muhajirin sibuk berdagang, Anshar sibuk mengurus harta, sehingga tidak selalu hadir bersama Nabi .
  4. Keutamaan menjaga dan menyebarkan ilmu: Hadis ini menunjukkan bahwa kesungguhan dan pengorbanan dalam menuntut ilmu akan menghasilkan keberkahan dan manfaat besar.
  5.  Contoh ketekunan dan pengabdian dalam menuntut ilmu; Abu Hurairah menjadi teladan dalam menghafal, menyertai Nabi, dan menyampaikan ilmu kepada umat.

hadis ke 8 Membicarakan ilmu sebelum tidur

hadis ke 8 Membicarakan ilmu sebelum tidur

 

      Membicarakan ilmu sebelum tidur



 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدِ بْنِ مُسَافِرٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمٍ وَأَبِي بَكْرِ بْنِ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ

 

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair berkata: telah menceritakan kepada saya Al Laits berkata: telah menceritakan kepadaku 'Abdurrahman bin Khalid bin Musafir dari Ibnu Syihab dari Salim dan Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Hatsmah bahwa 'Abdullah bin 'Umar berkata:

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat 'Isya bersama kami di akhir hayatnya. Setelah selesai memberi salam beliau berdiri dan bersabda: "Tidakkah kalian perhatikan malam kalian ini?. Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun darinya tidak akan tersisa seorangpun dari muka bumi ini."

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya: (1/34) no. 116
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya:  (7/186) no. 2537
  3. bn Hibban dalam "Sahih"-nya:  (7/256) no. 2989
  4. Al-Nasa'i dalam "al-Sunan al-Kubra": (5/374) no. 5840
  5. Abu Dawud dalam "Sunan"-nya: (4/219) no. 4348
  6. Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya:  (4/102) no. 2251
  7. Al-Bayhaqi dalam "Sunan al-Kubra":  (1/453) no. 2167
  8. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya: (3/1213) no. 5721
  9. Abdur Razzaq dalam "Musannaf"-nya:  (11/275) no. 20534
  10. Al-Tahawi dalam "Sharh Mushkil al-Athar":  (1/348) no. 373 dan 374
  11. Al-Tabarani dalam "al-Mu'jam al-Kabir":  (12/278) no. 13110

Kandungan Hadis:

  1. Disampaikan di akhir hayat Nabi : Hadis ini diucapkan oleh Rasulullah setelah shalat Isya menjelang wafatnya, menunjukkan pentingnya pesan yang disampaikan
  2. Peringatan tentang kefanaan manusia: Rasulullah menyatakan bahwa dalam waktu 100 tahun dari malam itu, semua orang yang hidup saat itu tidak akan ada yang tersisa.
  3. Penegasan bahwa setiap generasi akan berlalu: Hadis ini menunjukkan bahwa usia manusia terbatas, dan setiap generasi akan digantikan oleh generasi berikutnya.
  4. Dorongan untuk memanfaatkan waktu dengan amal: Karena hidup ini singkat, hadis ini menjadi motivasi untuk memperbanyak amal dan mempersiapkan akhirat.
  5. Tanda kenabian dan kebenaran sabda Rasulullah : Perkataan Nabi terbukti benar, karena seluruh generasi yang hidup saat itu telah wafat dalam waktu 100 tahun, menjadi bukti kenabiannya.

 

hadis ke 9 Menyampaikan ilmu dan Pelajaran di malam hari

hadis ke 9 Menyampaikan ilmu dan Pelajaran di malam hari



      Menyampaikan ilmu dan Pelajaran di malam hari



حَدَّثَنَا صَدَقَةُ أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ هِنْدٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ وَعَمْرٍو وَيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ هِنْدٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنْ الْفِتَنِ وَمَاذَا فُتِحَ مِنْ الْخَزَائِنِ أَيْقِظُوا صَوَاحِبَاتِ الْحُجَرِ فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ

 

Telah menceritakan kepada kami Shadaqah telah mengabarkan kepada kami Ibnu 'Uyainah dari Ma'mar dari Az Zuhri dari Hind dari Ummu Salamah. Dan 'Amru serta Yahya bin Sa'id dari Az Zuhri dari Hind dari Ummu Salamah berkata:

"Pada suatu malam Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terbangun lalu bersabda: "Subhaanallah (Maha suci Allah), fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Dan apa yang dibuka dari dua perbendaharaan (Ramawi dan Parsi)? Bangunlah wahai orang-orang yang ada di balik dinding (kamar-kamar), karena betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia ini namun akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan)."

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya: (1/34) no. 115
  2. Malik dalam "al-Muwatta'": (1/1340) no. 3385/699
  3. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya:  (2/466) no. 691
  4. Al-Hakim dalam "al-Mustadrak":  (4/508) no. 8647
  5. Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya:  (4/63) no. 2196
  6. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya:  (12/6408) no. 27188
  7. Al-Humaydi dalam "Musnad"-nya:  (1/306) no. 294
  8. Abu Ya'la dalam "Musnad"-nya:  (12/421) no. 6988
  9. Abdur Razzaq dalam "Musannaf"-nya: (11/362) no. 20748
  10. Al-Tabarani dalam "al-Mu'jam al-Kabir":  (23/355) no. 833
  11. al-Tabarani dalam "al-Mu'jam al-Awsat": (2/273) no. 1962

Kandungan Hadis:

 

  1. Peringatan terhadap turunnya fitnah di malam hari: Rasulullah terbangun dan mengungkapkan kekhawatiran atas fitnah besar yang turun pada malam itu.
  2. Terbukanya perbendaharaan Romawi dan Persia: Menandakan melimpahnya harta dan kekayaan dunia, yang bisa menjadi ujian bagi umat Islam.
  3. Seruan untuk bangun dan waspada: Beliau memanggil orang-orang di kamar agar bangkit dan tidak lalai, menunjukkan pentingnya kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap ujian dunia.
  4. Ancaman bagi yang hanya menikmati dunia: Banyak orang yang menikmati nikmat dunia, namun tidak mendapatkan kebaikan di akhirat karena lalai dari ibadah dan amal.
  5. Pentingnya menjaga diri dari fitnah harta dan dunia: Hadis ini mengingatkan agar kita tidak terbuai oleh kenikmatan dunia, dan tetap fokus pada amal untuk akhirat.

hadis ke 10 Keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkannya

hadis ke 10 Keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkannya

 

Keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkannya




حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ إِسْحَاقُ وَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ قَيَّلَتْ الْمَاءَ قَاعٌ يَعْلُوهُ الْمَاءُ وَالصَّفْصَفُ الْمُسْتَوِي مِنْ الْأَرْضِ

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa'atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya."

Berkata Abu Abdullah: Ishaq berkata: "Dan diantara jenis tanah itu ada yang berbentuk lembah yang dapat menampung air hingga penuh dan diantaranya ada padang sahara yang datar."

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya:  (1/27) no. 79
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya:  (7/63) no. 2282
  3. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya:  (1/177) no. 4
  4. Al-Nasa'i dalam "al-Sunan al-Kubra": (5/359) no. 5812
  5. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya:  (8/4506) no. 19882
  6. Abu Ya'la dalam "Musnad"-nya:  (13/295) no. 7311
  7. Al-Bazzar dalam "Musnad"-nya:  (8/149) no. 3169

Kandungan Hadis:

    1.  Ilmu dan petunjuk diibaratkan seperti hujan lebat: Hujan membawa kehidupan, sebagaimana ilmu dan hidayah membawa manfaat bagi hati dan jiwa manusi
    2. Jenis tanah sebagai perumpamaan manusia terhadap ilmu

·     Tanah subur : menyerap air dan menumbuhkan tanaman perumpamaan bagi orang yang memahami, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu.

·     Tanah keras: menahan air untuk dimanfaatkan perumpamaan bagi orang yang menyimpan ilmu dan memberi manfaat meski tidak mengamalkannya sepenuhnya.

·    Tanah tandus: tidak menyerap air dan tidak menumbuhkan tanaman perumpamaan bagi orang yang menolak ilmu dan tidak mengambil manfaat dari petunjuk Allah.

3. Pentingnya menerima dan menyebarkan ilmu agama: Hadis ini menekankan bahwa keberkahan ilmu tergantung pada sikap penerimanya: apakah ia menyerap, menyimpan, atau menolak.

4.   Perbedaan respons manusia terhadap wahyu: Ada yang menerima dan berkembang, ada yang menyimpan dan memberi manfaat, dan ada yang menolak dan tidak berubah.

hadis ke 11 Cara dicabutnya ilmu

hadis ke 11 Cara dicabutnya ilmu

 

     Cara dicabutnya ilmu



 حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Uwais berkata: telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan."

Berkata Al Firabri Telah menceritakan kepada kami 'Abbas berkata: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hisyam seperti ini juga.

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya:  (1/31) no. 97
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya:  (1/93) no. 154
  3. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya:(1/463) no. 227
  4. Al-Nasa'i dalam "al-Mujtaba":  (1/659) no. 3344/1
  5. Abu Dawud dalam "Sunan"-nya: (2/177) no. 2053
  6.  Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya: (2/409) no. 1116
  7. Al-Darimi dalam "Musnad"-nya:(3/1440) no. 2290
  8. Ibn Majah dalam "Sunan"-nya: (3/133) no. 1956
  9. Sa'id bin Mansur dalam "Sunan"-nya: (6/263) no. 912 dan 913
  10.   Al-Bayhaqi dalam "Sunan al-Kubra":  (7/127) no. 13851
  11. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya: (8/4497) no. 19841

Kandungan Hadis:

  1. Ilmu tidak dicabut secara langsung dari manusia: Allah tidak mencabut ilmu dengan menghapusnya dari hati manusia, tetapi melalui wafatnya para ulama
  2. Wafatnya ulama adalah hilangnya sumber ilmu: Ketika ulama sudah tidak ada, ilmu pun ikut hilang, karena mereka adalah penjaga dan penyampai ilmu.
  3. Munculnya pemimpin bodoh sebagai akibat: Tanpa ulama, manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang bodoh yang tidak memiliki ilmu agama.
  4. Bahaya fatwa tanpa ilmu: Pemimpin bodoh ini akan berfatwa tanpa dasar ilmu, sehingga menyesatkan dirinya dan orang lain.
  5. Pentingnya menjaga dan menghormati ulama: Hadis ini menekankan bahwa keberadaan ulama sangat penting untuk menjaga kemurnian dan keberlangsungan ilmu.

hadis ke 12 Mengajarkan ilmu kepada hamba sahaya dan keluarganya

hadis ke 12 Mengajarkan ilmu kepada hamba sahaya dan keluarganya

 

      Mengajarkan ilmu kepada hamba sahaya dan keluarganya



 أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ سَلَامٍ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ حَيَّانَ قَالَ قَالَ عَامِرٌ الشَّعْبِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَهُمْ أَجْرَانِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعَبْدُ الْمَمْلُوكُ إِذَا أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ وَرَجُلٌ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَةٌ فَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا وَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا فَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ ثُمَّ قَالَ عَامِرٌ أَعْطَيْنَاكَهَا بِغَيْرِ شَيْءٍ قَدْ كَانَ يُرْكَبُ فِيمَا دُونَهَا إِلَى الْمَدِينَةِ

 

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad Ibnu Salam, Telah menceritakan kepada kami Al Muharibi berkata: Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Al Hayyan berkata: telah berkata 'Amir Asy Sya'bi: telah menceritakan kepadaku Abu Burdah dari bapaknya berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Ada tiga orang yang akan mendapat pahala dua kali: seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya. Dan seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu dia memperlakukannya dengan baik, mendidiknya dengan baik, dan mengajarkan kepadanya dengan sebaik-baik pengajaran, kemudian membebaskannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala".

Berkata 'Amir: "Aku berikan permasalahan ini kepadamu tanpa imbalan, dan sungguh telah ditempuh untuk memperolehnya dengan menuju Madinah."

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya: (1/31) no. 97
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya: (1/93) no. 154
  3. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya:  (1/463) no. 227
  4. Al-Nasa'i dalam "al-Mujtaba":  (1/659) no. 3344/1
  5. Abu Dawud dalam "Sunan"-nya:  (2/177) no. 2053
  6.  Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya:  (2/409) no. 1116
  7. Al-Darimi dalam "Musnad"-nya:  (3/1440) no. 2290
  8. Ibn Majah dalam "Sunan"-nya:  (3/133) no. 1956
  9. Sa'id bin Mansur dalam "Sunan"-nya: (6/263) no. 912 dan 913
  10. Al-Bayhaqi dalam "Sunan al-Kubra":  (7/127–128) no. 13851, 13852, dan 13853
  11. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya:  (8/4497) no. 19841

Kandungan Hadis:

  1. Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabi mereka dan kepada Nabi Muhammad :  Mereka mendapat dua pahala karena mengikuti kebenaran dua kali, yaitu dari agama sebelumnya dan Islam
  2. Hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya: Ia mendapat dua pahala karena taat kepada Allah dan juga kepada majikannya dengan penuh tanggung jawab.
  3. Pemilik hamba sahaya wanita yang memperlakukan dengan baik, mendidik, membebaskan, lalu menikahinya
  4. Ia mendapat dua pahala karena berbuat baik, membebaskan dari perbudakan, dan menikahinya dengan cara terhormat.
  5. Penghargaan terhadap keadilan, pendidikan, dan akhlak mulia:  Hadis ini menekankan keutamaan berbuat baik, mendidik, dan memperlakukan orang lain dengan adil dan terhormat.

 

hadis ke 13 Bergantian dalam menuntut ilmu

hadis ke 13 Bergantian dalam menuntut ilmu

 

      Bergantian dalam menuntut ilmu



حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَ ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ عُمَرَ قَالَ كُنْتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنْ الْأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي الْمَدِينَةِ وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِخَبَرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ فَنَزَلَ صَاحِبِي الْأَنْصَارِيُّ يَوْمَ نَوْبَتِهِ فَضَرَبَ بَابِي ضَرْبًا شَدِيدًا فَقَالَ أَثَمَّ هُوَ فَفَزِعْتُ فَخَرَجْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ عَظِيمٌ قَالَ فَدَخَلْتُ عَلَى حَفْصَةَ فَإِذَا هِيَ تَبْكِي فَقُلْتُ طَلَّقَكُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ لَا أَدْرِي ثُمَّ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ وَأَنَا قَائِمٌ أَطَلَّقْتَ نِسَاءَكَ قَالَ لَا فَقُلْتُ اللَّهُ أَكْبَرُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri. Menurut jalur yang lainnya: Abu Abdullah berkata: dan berkata Ibnu Wahb: telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab dari 'Ubaidullah bin Abdullah bin Abu Tsaur dari Abdullah bin 'Abbas dari 'Umar berkata:Aku dan tetanggaku dari Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid dia termasuk orang kepercayaan di Madinah, kami saling bergantian menimba ilmu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sehari aku yang menemui Beliau dan hari lain dia yang menemui Beliau, Jika giliranku tiba, aku menanyakan seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba, ia pun melakukan hal yang sama. Ketika hari giliran tetanggaku tiba, dia datang kepadaku dengan mengetuk pintuku dengan sangat keras, seraya berkata: "Apakah dia ada disana?" Maka aku kaget dan keluar menemuinya. Dia berkata: "Telah terjadi persoalan yang gawat." Umar berkata: Aku pergi menemui Hafshah, dan ternyata dia sedang menangis, aku bertanya kepadanya: "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceraikanmu?" Hafshah menjawab: "Aku tidak tahu." Maka aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sambil berdiri aku tanyakan: "Apakah engkau menceraikan istri-istri engkau?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Tidak." Maka aku ucapkan: "Allah Maha Besar."

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya:  (1/29) no. 89.
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya:  (4/188–192) no. 1479
  3. Ibn Khuzaymah dalam "Sahih"-nya:  (3/368) no. 1921.
  4. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya: (8/235) no. 3453.
  5. Al-Dhiya' al-Maqdisi dalam "al-hadith al-Mukhtarah": (1/327) no. 221
  6. Al-Hakim dalam "al-Mustadrak":  (4/104) no. 7164.Al-Nasa'i dalam "al-Mujtaba":  (1/438) no. 2131/2
  7. Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya:(4/249) no. 2461.
  8. Ibn Majah dalam "Sunan"-nya:  (5/259) no. 4153
  9. Al-Bayhaqi dalam "Sunan al-Kubra": (7/37) no. 13391.
  10. Al-Daraqutni dalam "Sunan"-nya:  (5/75) no. 4013.
  11.  Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya: (1/80) no. 227.
  12. Al-Tayalisi dalam "Musnad"-nya:  (1/27) no. 23
  13. Abu Ya'la dalam "Musnad"-nya:  (1/149) no. 163 dan 164.
  14. Al-Bazzar dalam "Musnad"-nya:(1/264) no. 160.
  15.  Ibn Abi Shaybah dalam "Musannaf"-nya: (6/293) no. 9694
  16. Al-Tahawi dalam "Sharh Ma'ani al-Athar": (3/124) no. 4777
  17. Al-Tabarani dalam "al-Mu'jam al-Awsat": (3/313) no. 3261,

Kandungan Hadis:

  1. Semangat menimba ilmu secara bergantian: Umar bin Khattab dan tetangganya dari Anshar bergiliran menemui Rasulullah untuk mempelajari wahyu dan ilmu agama.
  2. Pentingnya menyampaikan ilmu kepada orang lain: Mereka saling berbagi informasi dan ilmu yang didapat dari Rasulullah , menunjukkan semangat belajar dan mengajarkan.
  3. Terjadi kekhawatiran tentang rumah tangga Nabi : Tetangga Umar datang dengan tergesa-gesa karena kabar bahwa Rasulullah mungkin menceraikan istri-istrinya, khususnya Hafshah.
  4. Kekhawatiran para sahabat terhadap kondisi Nabi : Umar segera mencari kepastian langsung dari Nabi , menunjukkan kepedulian dan kedekatan para sahabat terhadap kehidupan pribadi Rasulullah.
  5. Penegasan bahwa tidak terjadi perceraian: Rasulullah menjawab dengan tegas bahwa beliau tidak menceraikan istri-istrinya, dan Umar pun bersyukur dengan mengucapkan:“Allahu Akbar.”

 

hadis ke 14 Metode Nabi dalam mengatur penyampaian Pelajaran dan ilmu

hadis ke 14 Metode Nabi dalam mengatur penyampaian Pelajaran dan ilmu

 

     Metode Nabi dalam mengatur penyampaian Pelajaran dan ilmu





 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf berkata: telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Abu Wa'il dari Ibnu Mas'ud berkata: bahwa,Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu memilah-milah hari yang tepat bagi kami untuk memberikan nasehat, karena khawatir rasa bosan akan menghinggapi kami.

Takhrij Hadis:

  1. Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya: (1/25) no. 68
  2. Muslim dalam "Sahih"-nya:  (8/142) no. 2821
  3. Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya:  (10/382) no. 4524
  4. Al-Nasa'i dalam "al-Sunan al-Kubra":  (5/383) no. 5858
  5. Al-Tirmidzi dalam "Jami'"-nya:  (4/534) no. 2855
  6. Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya: (2/833) no. 3651.
  7. Al-Tayalisi dalam "Musnad"-nya:  (1/206) no. 253
  8. Al-Humaydi dalam "Musnad"-nya:  (1/213) no. 107
  9. Abu Ya'la dalam "Musnad"-nya:  (8/445) no. 5032.
  10. Al-Bazzar dalam "Musnad"-nya: (5/94) no. 1669
  11. Ibn Abi Shaybah dalam "Musannaf"-nya:  (13/495) no. 27046
  12. Al-Tabarani dalam "al-Mu'jam al-Kabir":  (10/192) no. 10430
  13. Al-Tabarani dalam "al-Mu'jam al-Awsat": (4/259) no. 4138,

Kandungan Hadis:

  1. Rasulullah bijak dalam memilih waktu memberi nasihat: Beliau  tidak memberi nasihat setiap hari, tetapi memilih waktu yang tepat.
  2. Menghindari kejenuhan dalam belajar agama: Tujuannya agar para sahabat tidak merasa bosan, sehingga nasihat tetap efektif dan diterima dengan baik.
  3. Pentingnya mempertimbangkan kondisi pendengar: Hadis ini mengajarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus memperhatikan psikologi dan kesiapan audiens.
  4. Teladan dalam menyampaikan ilmu secara bertahap: Rasulullah menunjukkan bahwa kontinuitas dan kebijaksanaan lebih penting daripada kuantitas dalam menyampaikan nasihat.

 

55
9000
400

Contact

Motivasi Belajar

Menuntut ilmu adalah ibadah yang memuliakan seorang hamba; setiap usaha kecil dalam belajar adalah cahaya yang Allah jadikan sebagai jalan menuju kebaikan. Niatkan belajar karena-Nya, bersabar dalam proses, dan yakinlah bahwa Allah selalu bersama hamba yang bersungguh-sungguh sehingga ilmu yang dicari akan menjadi cahaya yang menerangi hidup.

Alamat:

JI, Aruji Kartawinata, Kp. Ciawitali, Tarogong Kidul Garut, Kab. Garut, Kode Pos, 44151.

Jam Buka:

Senin-Sabtu

No WhatsApp:

595 12 34 567

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.