Cara
dicabutnya ilmu
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي
مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ
مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا
لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا
فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا قَالَ الْفِرَبْرِيُّ
حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ
نَحْوَهُ
Telah
menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Uwais berkata: telah menceritakan
kepadaku Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin 'Amru bin
Al 'Ash berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
"Sesungguhnya
Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi
Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak
tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang
bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan
menyesatkan."
Berkata
Al Firabri Telah menceritakan kepada kami 'Abbas berkata: Telah menceritakan
kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hisyam seperti
ini juga.
Takhrij Hadis:
- Al-Bukhari dalam "Sahih"-nya: (1/31) no. 97
- Muslim dalam "Sahih"-nya: (1/93) no. 154
- Ibn Hibban dalam "Sahih"-nya:(1/463) no. 227
- Al-Nasa'i dalam "al-Mujtaba": (1/659) no. 3344/1
- Abu Dawud dalam "Sunan"-nya: (2/177) no. 2053
- Al-Tirmidhi dalam "Jami'"-nya: (2/409) no. 1116
- Al-Darimi dalam "Musnad"-nya:(3/1440) no. 2290
- Ibn Majah dalam "Sunan"-nya: (3/133) no. 1956
- Sa'id bin Mansur dalam "Sunan"-nya: (6/263) no. 912 dan 913
- Al-Bayhaqi dalam "Sunan al-Kubra": (7/127) no. 13851
- Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad"-nya: (8/4497) no. 19841
Kandungan Hadis:
- Ilmu tidak dicabut secara langsung dari manusia: Allah tidak mencabut ilmu dengan menghapusnya dari hati manusia, tetapi melalui wafatnya para ulama
- Wafatnya ulama adalah hilangnya sumber ilmu: Ketika ulama sudah tidak ada, ilmu pun ikut hilang, karena mereka adalah penjaga dan penyampai ilmu.
- Munculnya pemimpin bodoh sebagai akibat: Tanpa ulama, manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang bodoh yang tidak memiliki ilmu agama.
- Bahaya fatwa tanpa ilmu: Pemimpin bodoh ini akan berfatwa tanpa dasar ilmu, sehingga menyesatkan dirinya dan orang lain.
- Pentingnya menjaga dan menghormati ulama: Hadis ini menekankan bahwa keberadaan ulama sangat penting untuk menjaga kemurnian dan keberlangsungan ilmu.

0 komentar:
Posting Komentar