40 hadis tentang ilmu

selamat datang di seputar hadis tentang ilmu

MATERI HADIS

Sabtu, 06 Desember 2025

hadis ke 1 Menyembunyikan ilmu

hadis ke 1 Menyembunyikan ilmu

 Menyembunyikan ilmu


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بُدَيْلِ بْنِ قُرَيْشٍ الْيَامِيُّ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ زَاذَانَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Budail bin Quraisy al Yamiyyu al Kufi telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Umarah bin Zadzan dari Ali bin al Hakam dari 'Atha' dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya, maka dia akan dicambuk pada hari kiamat dengan cambuk dari neraka." Dan pada bab tersebut juga diriwayatkan dari Jabir dan Abdullah bin 'Amru, Abu Isa berkata: 'Hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan.'

Takhrij Hadis:

  1. al-Tirmiżī, Sunan, 5/—, Kitāb al-‘Ilm, no. 2573.

  2. Abū Dāwūd, Sunan, 3/—, Kitāb al-‘Ilm, no. 3658.

  3. Ibn Mājah, Sunan, 1/—, Muqaddimah, no. 261.

  4. Aḥmad, Musnad, 2/—, no. 8691–8693.

  5. al-Dārimī, Sunan, 1/—, no. 346.

  6. al-Bayhaqī, Shu‘ab al-Īmān, 4/—, no. 1760–1762.

  7. al-Ṭabarānī, al-Mu‘jam al-Awsat, 6/—, no. 6031.

Kandungan Hadis:

  1. Kewajiban Menyampaikan Ilmu: Hadis ini menegaskan bahwa orang yang memiliki ilmu, terutama ilmu agama, wajib menyampaikannya ketika ditanya atau dibutuhkan.

  2. Ancaman Bagi yang Menyembunyikan Ilmu: Orang yang menyembunyikan ilmu padahal ia mengetahuinya akan dihukum pada hari kiamat dengan pengekangan dari api neraka, sebagai bentuk siksaan yang sangat berat.

  3. Ilmu adalah Amanah: Ilmu bukan sekadar hak pribadi, tetapi amanah yang harus disebarkan demi kemaslahatan umat.

  4. Larangan Sombong atau Pelit Ilmu: Hadis ini mencela sikap enggan berbagi ilmu karena sombong, iri, atau takut disaingi, yang bertentangan dengan akhlak seorang penuntut ilmu.

  5. Keutamaan Menjawab Pertanyaan Ilmiah: Menjawab pertanyaan dengan ilmu yang benar adalah ibadah dan bentuk dakwah, bukan sekadar diskusi biasa.

  6. Tanggung Jawab Ulama dan Penuntut Ilmu: Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menyampaikan kebenaran, terutama dalam kondisi masyarakat membutuhkan bimbingan.

  7. Hadis Ini Diperkuat oleh Riwayat Lain: Hadis ini juga diriwayatkan oleh Jabir dan Abdullah bin ‘Amr, menunjukkan bahwa maknanya masyhur dan diperkuat oleh banyak jalur.



 

hadis ke 2 Sunnahnya bergaul dengaan ahlu ilmi

hadis ke 2 Sunnahnya bergaul dengaan ahlu ilmi

 Sunnahnya bergaul dengaan ahlu ilmi


 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Buraid bin 'Abdullah dari Kakeknya dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al A'laa Al Mahdani dan lafazh ini miliknya: Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan menciumi baunya yang tidak sedap."

Takhrij Hadis:

  1. al-Bukhārī Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 4/323, Kitāb al-Buyū‘, Bāb al-Jalīs aṣ-Ṣāliḥ, No. 5534.

  2. MuslimDalam Ṣaḥīḥ Muslim, 4/2026, Kitāb al-Birr waṣ-Ṣilah, No. 2628.

  3. at-Tirmiẓī,Dalam Sunan at-Tirmiẓī, 4/575,Kitāb al-Amthāl,No. 2005.

  4. an-Nasā’ī (al-Kubrā) Dalam as-Sunan al-Kubrā, 6/249, Kitāb al-Buyū‘,No. 11213.

  5. Aḥmad bin Ḥanbal Dalam Musnad Aḥmad, 30/268,al-Musnad ‘an Abī Mūsā al-Ash‘arī,No. 19557–19558.

  6. . al-Ṭabarānī Dalam al-Mu‘jam al-Kabīr, 11/185.

  7. al-Bayhaqi Dalam as-Sunan al-Kubrā, 10/316.


Kandungan Hadis:


  1. Pentingnya memilih teman karena pengaruhnya sangat besar pada agama dan akhlak.

  2. Teman baik seperti penjual minyak wangi:

  • Bisa memberi manfaat langsung.

  • Bisa kamu ambil sebagian manfaatnya.

  • Minimal memberi pengaruh yang menyenangkan.

  1. Teman buruk seperti pandai besi:

  • Bisa merusak (seperti membakar pakaian).

  • Minimal memberi pengaruh buruk.

  1. Anjuran bergaul dengan orang saleh dan ahli ilmu, karena mereka membawa kebaikan.

  2. Larangan bergaul dengan orang buruk akhlaknya, karena akan menimbulkan kerusakan.

  3. Lingkungan menentukan kualitas iman dan perilaku.




hadis ke 3 Mengjarkan ilmu kepada hamba sahaya dan keluarganya

hadis ke 3 Mengjarkan ilmu kepada hamba sahaya dan keluarganya

 Mengjarkan ilmu kepada hamba sahaya dan keluarganya


أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ سَلَامٍ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ حَيَّانَ قَالَ قَالَ عَامِرٌ الشَّعْبِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَهُمْ أَجْرَانِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعَبْدُ الْمَمْلُوكُ إِذَا أَدَّى حَقَّ اللَّهِ وَحَقَّ مَوَالِيهِ وَرَجُلٌ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَةٌ فَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا وَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا فَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ ثُمَّ قَالَ عَامِرٌ أَعْطَيْنَاكَهَا بِغَيْرِ شَيْءٍ قَدْ كَانَ يُرْكَبُ فِيمَا دُونَهَا إِلَى الْمَدِينَةِ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad Ibnu Salam, Telah menceritakan kepada kami Al Muharibi berkata: Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Al Hayyan berkata: telah berkata 'Amir Asy Sya'bi: telah menceritakan kepadaku Abu Burdah dari bapaknya berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Ada tiga orang yang akan mendapat pahala dua kali: seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya. Dan seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu dia memperlakukannya dengan baik, mendidiknya dengan baik, dan mengajarkan kepadanya dengan sebaik-baik pengajaran, kemudian membebaskannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala".

Kemudian Berkata 'Amir: "Aku berikan permasalahan ini kepadamu tanpa imbalan, dan sungguh telah ditempuh untuk memperolehnya dengan menuju Madinah."

Takhrij Hadis:

    1. al-Bukhārī, dalam Ṣaḥīḥ nya, 1/—, Kitāb al-‘Ilm, no. 95.

    2. Muslim, dalam Ṣaḥīḥ nya, 1/—, Kitāb al-Imān, no. 154 / 219.

    3. an-Nasā’ī (al-Kubrā), 5/—, Kitāb al-‘Itq, no. 5168.

    4. Ibn Mājah, dalam Sunan nya, 1/—, Kitāb al-‘Itq, no. 2528.

    5. Aḥmad, dalam Musnad nya, 30/—, al-Musnad ‘an Abī Mūsā, no. 19557–19558.

    6. al-Ṭabarānī,dalam al-Mu‘jam al-Kabīr, 11/—.

    7. al-Bayhaqī,dalam al-Sunan al-Kubrā, 9/—.

      Kandungan Hadis:

  1. Keutamaan Ahlul Kitab yang Beriman kepada Nabi Muhammad : Seorang dari Ahlul Kitab (Yahudi atau Nasrani) yang beriman kepada Nabinya dan kemudian beriman kepada Nabi Muhammad mendapat pahala dua kali: atas keimanannya yang berkesinambungan.

  2. Keutamaan Hamba Sahaya yang Taat: Seorang budak yang menunaikan hak Allah (ibadah) dan hak tuannya (ketaatan dalam hal yang ma’ruf) juga mendapat pahala dua kali: karena ia taat dalam dua tanggung jawab besar.

  3. Keutamaan Mengajarkan dan Membebaskan Hamba Sahaya

- Seseorang yang memiliki hamba sahaya perempuan, lalu:

- Mendidiknya dengan baik (ta’dib)

- Mengajarinya dengan baik (ta’lim)

- Membebaskannya (memerdekakan)

- Menikahinya

Maka ia mendapat dua pahala: atas pendidikan dan pembebasan, serta atas pernikahan yang sah dan mulia.

  1. Dorongan untuk Mendidik dan Memuliakan Orang Lemah: Islam sangat menekankan pendidikan dan perlakuan baik terhadap hamba sahaya, yang saat itu merupakan kelompok lemah dalam masyarakat.

  2. Pahala Berlipat untuk Amal yang Berat dan Ikhlas: Hadis ini menunjukkan bahwa amal yang dilakukan dengan kesungguhan, pengorbanan, dan niat yang ikhlas bisa mendatangkan pahala berlipat.

  3. Pentingnya Pendidikan dalam Islam: Mengajarkan ilmu, bahkan kepada hamba sahaya, adalah amal yang sangat mulia dan berpahala besar.

  4. Keadilan dan Rahmat Islam terhadap Semua Golongan: Islam memberikan peluang pahala besar kepada siapa pun, termasuk Ahlul Kitab dan hamba sahaya, jika mereka beriman dan beramal dengan benar.

  5. Perkataan ‘Amir Asy-Sya’bi: “Aku berikan hadis ini kepadamu tanpa imbalan…” menunjukkan semangat menyebarkan ilmu tanpa pamrih, dan bahwa ilmu agama sangat berharga hingga orang dahulu rela menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkannya.








 

hadis ke 4 Berbicara tentang Alquran tanpa ilmu

hadis ke 4 Berbicara tentang Alquran tanpa ilmu

 Berbicara tentang Alquran tanpa ilmu


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ الْمُقْرِئُ الْحَضْرَمِيُّ حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ مِهْرَانَ أَخِي حَزْمٍ الْقُطَعِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ عَنْ جُنْدُبٍ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepadaku Ya'qub bin Ishaq Al Muqri` Al Hadlrami telah menceritakan kepada kami Suhail bin Mihran saudara Hazm Al Qutha'I, telah menceritakan kepada kami Abu 'Imran dari Jundub ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah 'azza wa jalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah."

Takhrij Hadis:

  1. Abū Dāwūd, dalam Sunan nya, 4/—, Kitāb al-‘Ilm, Bāb al-Nahyi ‘an al-Qawl bi-ra’yihī, no. 3167.

  2. al-Tirmiḏī, dalam Sunan nya, 5/—, Kitāb al-Tafsīr, no. 2950.

  3. Aḥmad, dalam Musnad nya, 4/—, riwayat Jundub, no. 18829–18833.

  4. al-Dārimī, dalam Sunan nya, 1/—, Muqaddimah, no. 212.

  5. al-Ṭabarānī, dalam al-Mu‘jam al-Kabīr nya, 2/—, riwayat Jundub.

  6. al-Bayhaqī,dalam Shu‘ab al-Īmān , 2/—, no. 1913.

  7. Ibn Abī Shaybah, dalam al-Muṣannaf, 6/—, no. 30215.

Kandungan Hadis:

    1. Larangan Menafsirkan Al-Qur’an dengan Akal Semata: Hadis ini menegaskan bahwa menafsirkan Al-Qur’an hanya berdasarkan pendapat pribadi (tanpa ilmu) adalah kesalahan, meskipun hasilnya kebetulan benar.

    2. Pentingnya Ilmu dalam Memahami Al-Qur’an: Penafsiran Al-Qur’an harus didasarkan pada ilmu yang sahih: bahasa Arab, asbāb al-nuzūl (sebab turunnya ayat), nasikh-mansukh, dan pemahaman para sahabat.

    3. Bahaya Spekulasi dalam Agama: Berbicara tentang Al-Qur’an tanpa dasar ilmu bisa menyesatkan diri sendiri dan orang lain, serta membuka pintu penyimpangan.

    4. Kebenaran yang Tidak Berdasar Ilmu Tetap Salah: Meskipun seseorang menafsirkan Al-Qur’an dan kebetulan benar, jika caranya salah (tanpa ilmu), maka tetap dianggap salah menurut syariat.

    5. Adab dalam Menyampaikan Tafsir: Hadis ini mengajarkan kehati-hatian dan kerendahan hati dalam menyampaikan makna ayat-ayat Al-Qur’an.

    6. Menjaga Kemurnian Makna Al-Qur’an:Larangan ini bertujuan untuk menjaga kemurnian dan otoritas makna Al-Qur’an dari penafsiran liar atau subjektif.

    7. Peran Ulama dalam Menafsirkan Al-Qur’an: Menunjukkan bahwa tafsir adalah bidang ilmu yang membutuhkan otoritas dan kompetensi, bukan sekadar logika atau perasaan.

 

hadis ke 5 Anjuran agar tidak Terburu buru dalam menyampaikan ilmu

hadis ke 5 Anjuran agar tidak Terburu buru dalam menyampaikan ilmu

 Anjuran agar tidak Terburu buru dalam menyampaikan ilmu

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الطُّوسِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ قَالَ جَلَسَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِلَى جَنْبِ حُجْرَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهِيَ تُصَلِّي فَجَعَلَ يَقُولُ اسْمَعِي يَا رَبَّةَ الْحُجْرَةِ مَرَّتَيْنِ فَلَمَّا قَضَتْ صَلَاتَهَا قَالَتْ أَلَا تَعْجَبُ إِلَى هَذَا وَحَدِيثِهِ إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُحَدِّثُ الْحَدِيثَ لَوْ شَاءَ الْعَادُّ أَنْ يُحْصِيَهُ أَحْصَاهُ

Sunan Abu Daud 3169: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshur Ath Thusi telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Az Zuhri dari 'Urwah ia berkata:

Abu Hurairah duduk di samping kamar Aisyah radliyallahu 'anha, sementara ia sedang melakukan shalat, Abu Hurairah lalu berkata: "Dengarkan wahai pemilik kamar!" Abu Hurairah mengucapkannya dua kali. Ketika Aisyah selesai shalat, ia pun berkata: "Tidakkah engkau (Urwah) kagum terhadap orang ini (Abu Hurairah) dan pembicaraannya? Seandainya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan sebuah hadits jika ada orang yang menghitung ingin menghitung maka ia mampu untuk menghitungnya." (Beliau mengucapkannya tidak terburu-buru sehingga mudah di hitung)

Takhrij Hadis:

  1. Abū Dāwūd, dalam Sunan nya, 4/—, Kitāb al-Adab, Bāb fī Ḥusn al-Ḥadīth, no. 3169.

  2. Aḥmad, dalam Musnad nya, 6/—, Musnad ‘Ā’ishah, no. 25344.

  3. Ibn Mājah, dalam Sunan nya , 1/—, al-Muqaddimah, Bāb man yuḥaddithu…, no. 41.

  4. al-Nasā’ī, dalam al-Sunan al-Kubrā, 6/—, Kitāb al-‘Ilm, no. 5619.

  5. Ibn Ḥibbān, dalam Ṣaḥīḥ nya, 2/—, Kitāb al-Raqā’iq, no. 1309.

  6. al-Ḥākim, dalam al-Mustadrak al hakim, 1/—, Kitāb al-‘Ilm, no. 651.

  7. al-Bayhaqī, dalam al-Sunan al-Kubrā, 10/—, Kitāb al-‘Ilm, no. 20994.

Kandungan Hadis:

    1. Adab Abu Hurairah dalam Menyampaikan Hadis: Abu Hurairah dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Ia menyampaikan hadis dengan semangat dan gaya yang khas, namun tetap dalam batas adab.

    2. Kritik Aisyah terhadap Gaya Penyampaian: Aisyah radhiyallahu ‘anha menegur gaya penyampaian Abu Hurairah yang menurutnya berbeda dari cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadis.

    3. Sifat Penyampaian Rasulullah : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadis dengan jelas, tenang, dan teratur, sehingga mudah dihafal dan dihitung oleh para sahabat.

    4. Pentingnya Ketelitian dalam Menyampaikan Ilmu: Hadis ini menunjukkan bahwa menyampaikan ilmu, khususnya hadis, harus dilakukan dengan ketelitian dan kehati-hatian, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman.

    5. Peran Aisyah sebagai Pengoreksi dan Penjaga Otoritas Ilmu: Aisyah dikenal sebagai sosok yang kritis dan ilmiah. Ia tidak segan mengoreksi sahabat lain demi menjaga keaslian ajaran Nabi.

    6. Isyarat tentang Metodologi Periwayatan Hadis: Hadis ini menjadi salah satu dasar penting dalam ilmu musthalah al-hadits, khususnya dalam hal sifat penyampaian dan hafalan para perawi.

    7. Kebolehan Menegur dengan Lembut: Aisyah menegur dengan cara yang halus namun tegas, menunjukkan adab dalam mengingatkan sesama penuntut ilmu.


55
9000
400

Contact

Motivasi Belajar

Menuntut ilmu adalah ibadah yang memuliakan seorang hamba; setiap usaha kecil dalam belajar adalah cahaya yang Allah jadikan sebagai jalan menuju kebaikan. Niatkan belajar karena-Nya, bersabar dalam proses, dan yakinlah bahwa Allah selalu bersama hamba yang bersungguh-sungguh sehingga ilmu yang dicari akan menjadi cahaya yang menerangi hidup.

Alamat:

JI, Aruji Kartawinata, Kp. Ciawitali, Tarogong Kidul Garut, Kab. Garut, Kode Pos, 44151.

Jam Buka:

Senin-Sabtu

No WhatsApp:

595 12 34 567

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.